Jakarta, 16 September 2026 – Pemerintah berencana mengevaluasi penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kemungkinan mencoret ribuan sekolah yang dinilai masuk kategori elite atau memiliki kemampuan ekonomi relatif tinggi. Langkah tersebut dilakukan agar anggaran program dapat lebih diarahkan kepada siswa yang benar-benar membutuhkan dukungan pemenuhan gizi. Evaluasi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketepatan sasaran program setelah pelaksanaannya menjangkau semakin banyak sekolah di berbagai daerah. Pemerintah menilai karakteristik peserta didik dan kondisi ekonomi setiap sekolah tidak sama sehingga distribusi manfaat perlu terus diperbaiki. Sekolah dengan mayoritas siswa berasal dari keluarga mampu menjadi salah satu kelompok yang akan ditinjau. Namun, pencoretan tetap membutuhkan proses verifikasi agar tidak menimbulkan kesalahan dalam menentukan penerima.
Program MBG sejak awal dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus mendukung proses belajar di sekolah. Dalam perkembangannya, cakupan penerima yang sangat besar membuat pemerintah perlu memastikan penggunaan anggaran memberikan manfaat maksimal. Evaluasi terhadap sekolah elite muncul karena terdapat pandangan bahwa siswa dari keluarga dengan kemampuan ekonomi tinggi memiliki akses lebih baik terhadap makanan bergizi. Pemerintah ingin mengarahkan kapasitas program kepada kelompok yang menghadapi keterbatasan akses pangan bergizi. Sekolah di kawasan tertinggal dan wilayah dengan tingkat kerentanan ekonomi tinggi akan menjadi perhatian. Penyesuaian tersebut diharapkan meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran.
Ribuan sekolah yang masuk dalam daftar evaluasi tidak serta-merta langsung kehilangan program. Pemerintah perlu menetapkan indikator yang jelas mengenai sekolah yang dapat dikategorikan memiliki peserta didik dengan kemampuan ekonomi tinggi. Status sekolah negeri atau swasta saja tidak cukup menjadi dasar karena komposisi ekonomi peserta didik dapat berbeda. Biaya pendidikan, profil keluarga siswa, lokasi sekolah, dan indikator sosial ekonomi dapat menjadi bagian dari proses pemetaan. Data tersebut perlu diverifikasi untuk menghindari pencoretan siswa yang sebenarnya membutuhkan bantuan. Mekanisme penilaian yang transparan juga diperlukan agar kebijakan dapat dipertanggungjawabkan.
Pengalihan porsi MBG dari sekolah yang dinilai tidak menjadi prioritas berpotensi membuka ruang untuk memperluas pelayanan di wilayah lain. Pemerintah masih menghadapi tantangan menjangkau sekolah di kawasan terpencil karena keterbatasan dapur, distribusi bahan makanan, serta jarak pengiriman. Anggaran dan kapasitas produksi yang tersedia dapat lebih difokuskan kepada daerah dengan kebutuhan tinggi. Dengan demikian, evaluasi penerima tidak hanya bertujuan mengurangi jumlah sekolah tertentu. Pemerintah juga ingin memperbaiki distribusi manfaat berdasarkan kebutuhan. Perubahan tersebut harus dilakukan tanpa mengurangi standar kualitas makanan yang diterima siswa.
Selain ketepatan sasaran, keamanan pangan tetap menjadi aspek penting dalam evaluasi MBG. Pemerintah perlu memastikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi menjalankan standar pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan dengan baik. Besarnya jumlah makanan yang diproduksi setiap hari membuat pengawasan menjadi tantangan tersendiri. Bahan baku harus memenuhi standar dan proses memasak perlu dilakukan dalam kondisi higienis. Jarak antara waktu produksi dan konsumsi juga harus diperhitungkan untuk menjaga kualitas makanan. Evaluasi penerima perlu berjalan bersamaan dengan penguatan pengawasan terhadap operasional dapur.
Program MBG memiliki tujuan lebih luas daripada sekadar menyediakan makanan di sekolah. Pemerintah mengaitkannya dengan upaya mengatasi persoalan kekurangan gizi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. Asupan makanan yang cukup dan seimbang dapat mendukung kesehatan serta konsentrasi peserta didik selama mengikuti pembelajaran. Karena itu, kelompok yang mengalami kerentanan gizi menjadi sasaran yang penting untuk diprioritaskan. Pendekatan berbasis kebutuhan dinilai dapat meningkatkan dampak program. Data penerima harus terus diperbarui karena kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat berubah.
Rencana pencoretan sekolah elite juga membutuhkan komunikasi yang jelas kepada orang tua dan pengelola sekolah. Pemerintah perlu menjelaskan kriteria serta alasan perubahan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Sekolah yang merasa masih memiliki siswa dari keluarga kurang mampu juga membutuhkan mekanisme untuk menyampaikan data pendukung. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah penargetan berdasarkan kondisi peserta didik, bukan semata-mata identitas sekolah. Pendekatan tersebut dapat membantu memastikan siswa yang membutuhkan tetap memperoleh manfaat. Detail mekanismenya masih membutuhkan penetapan lebih lanjut dari pemerintah.
Evaluasi terhadap ribuan sekolah elite menjadi bagian dari penyesuaian program MBG agar manfaatnya semakin tepat sasaran. Pemerintah harus memastikan setiap perubahan didasarkan pada data dan proses verifikasi yang memadai. Prioritas terhadap siswa dari keluarga rentan diharapkan membuat penggunaan anggaran lebih efektif sekaligus memperluas jangkauan ke wilayah yang masih membutuhkan. Pada saat yang sama, kualitas makanan, keamanan pangan, dan kesiapan dapur tetap harus dijaga. Keputusan akhir mengenai sekolah yang dicoret akan bergantung pada kriteria serta hasil evaluasi pemerintah. Penataan penerima tersebut diharapkan membuat program MBG semakin fokus pada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.







