Jakarta, 18 September 2026 – Indonesia dan Australia terus menjajaki bentuk kemitraan baru di sektor pangan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas. Kerja sama tersebut diarahkan pada pengembangan rantai pasok, peningkatan produktivitas pertanian, pemanfaatan teknologi serta penguatan industri pengolahan pangan. Kedua negara memiliki karakter sektor pertanian yang dinilai dapat saling melengkapi sehingga kolaborasi tidak hanya berorientasi pada perdagangan komoditas. Pemerintah Indonesia juga mendorong investasi yang mampu memperkuat kapasitas produksi dan pengolahan di dalam negeri. Australia memiliki pengalaman dalam teknologi pertanian, pengelolaan air dan sistem produksi yang dapat dikembangkan melalui kerja sama. Sementara itu, Indonesia menawarkan pasar besar sekaligus peluang pengembangan industri pangan bernilai tambah.

Kerangka Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IA-CEPA menjadi salah satu fondasi penguatan hubungan ekonomi kedua negara. Melalui kesepakatan tersebut, sektor agrifood ditempatkan sebagai salah satu bidang prioritas untuk pengembangan kerja sama. Program Katalis 2.0 yang diluncurkan pada Juli 2026 juga diarahkan untuk memperbesar manfaat perdagangan dan investasi melalui kolaborasi pemerintah serta dunia usaha. Tahap kedua program tersebut melanjutkan kerja sama sebelumnya dengan fokus pada peningkatan akses pasar dan integrasi ekonomi. Sektor pangan memiliki ruang besar untuk dikembangkan karena kebutuhan kedua negara tidak sepenuhnya sama. Kondisi tersebut membuka peluang pembentukan rantai pasok yang dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha Indonesia maupun Australia.

Salah satu bidang yang telah dibahas adalah pengembangan pertanian modern dan sistem pengelolaan air. Indonesia sebelumnya menjajaki kolaborasi dengan Australia untuk pengembangan sistem irigasi modern di kawasan cetak sawah Dadahup, Kalimantan Tengah. Teknologi dan tata kelola air diharapkan membantu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendukung target ketahanan pangan nasional. Kerja sama serupa dapat dikembangkan pada sektor lain dengan menyesuaikan karakter wilayah dan komoditas. Pemerintah Indonesia menempatkan peningkatan produktivitas sebagai faktor penting agar kebutuhan pangan dapat dipenuhi secara lebih konsisten. Transfer pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu bentuk kemitraan yang diharapkan memberikan manfaat jangka panjang.

Selain produksi pertanian, peluang investasi terbuka pada industri bahan baku dan produk antara untuk sektor makanan dan minuman. Indonesia memiliki industri makanan dan minuman yang besar, tetapi sejumlah bahan baku masih harus dipenuhi melalui impor. Investasi pada sektor tersebut dapat membantu memperkuat rantai pasok domestik sekaligus mengurangi kerentanan terhadap perubahan kondisi perdagangan global. Perusahaan Australia dapat menjajaki kemitraan dengan pelaku usaha Indonesia untuk membangun fasilitas produksi maupun pengolahan. Indonesia pada saat yang sama dapat memperluas akses produk pangan bernilai tambah menuju pasar Australia. Model kerja sama tersebut diharapkan bergerak dari hubungan pembeli dan penjual menuju investasi serta produksi bersama.

Aspek standar pangan juga menjadi perhatian karena Indonesia akan memasuki tahap baru penerapan kewajiban sertifikasi halal terhadap produk makanan dan minuman impor pada Oktober 2026. Eksportir Australia perlu memastikan produk yang masuk ke Indonesia memenuhi ketentuan yang berlaku agar akses pasar tetap terjaga. Pemerintah kedua negara terus berkomunikasi mengenai persyaratan tersebut untuk membantu pelaku usaha melakukan penyesuaian. Kepastian standar dinilai penting karena perdagangan pangan melibatkan aspek keamanan, kesehatan dan kepercayaan konsumen. Selain halal, persyaratan sanitasi dan fitosanitasi juga menjadi bagian penting dalam kelancaran perdagangan produk pertanian. Harmonisasi dan pemahaman terhadap regulasi diharapkan dapat mengurangi hambatan tanpa mengurangi standar perlindungan konsumen.

Pengembangan kemitraan pangan Indonesia dan Australia selanjutnya diharapkan menghasilkan investasi konkret yang meningkatkan produktivitas serta memperkuat ketahanan rantai pasok kedua negara. Pemerintah Indonesia menekankan bahwa kerja sama perlu memberikan nilai tambah bagi industri nasional dan membuka peluang lebih besar bagi petani maupun pelaku usaha domestik. Australia juga melihat Indonesia sebagai salah satu mitra ekonomi utama di kawasan dengan kebutuhan pangan yang terus berkembang. Peluang kolaborasi mencakup pertanian, peternakan, hortikultura, bahan baku makanan hingga teknologi produksi dan pengelolaan air. Keberhasilan kemitraan akan bergantung pada kemampuan kedua negara mempertemukan kebutuhan industri dengan investasi dan teknologi yang tepat. Kerja sama tersebut diharapkan berkembang menjadi hubungan pangan jangka panjang yang lebih terintegrasi dan saling menguntungkan.