Tiga tahun sejak mulai diterapkan secara nasional, Kurikulum Merdeka kini menjadi fondasi utama dalam transformasi pendidikan di Indonesia. Dengan semangat “merdeka belajar”, kurikulum ini menawarkan fleksibilitas, penguatan karakter, dan pembelajaran yang berfokus pada kompetensi, bukan sekadar hafalan.
Penerapan Kurikulum Merdeka tidak hanya berdampak pada cara guru mengajar, tetapi juga mengubah paradigma pendidikan nasional — dari yang berorientasi pada standar nasional ujian, menjadi pendidikan yang memerdekakan potensi siswa.
Apa Itu Kurikulum Merdeka?
Kurikulum Merdeka merupakan pendekatan kurikulum baru yang digagas oleh Kemendikbudristek untuk:
-
Memberi kebebasan belajar sesuai minat dan bakat siswa,
-
Menguatkan proyek profil pelajar Pancasila,
-
Mengurangi beban konten dan lebih fokus pada pembelajaran mendalam (deep learning),
-
Mendorong pembelajaran kontekstual dan diferensiasi sesuai kebutuhan siswa.
Evaluasi Implementasi di Lapangan
✅ Capaian Positif
-
Fleksibilitas Guru dan Siswa
Guru diberikan keleluasaan menyusun modul ajar dan metode pembelajaran sesuai kondisi siswa dan daerah. Ini mendorong kreativitas guru dan meningkatkan partisipasi siswa, terutama dalam pembelajaran berbasis proyek. -
Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
Sekolah mulai rutin mengadakan proyek-proyek tematik seperti kewirausahaan lokal, pelestarian budaya daerah, hingga aksi lingkungan hidup. Kegiatan ini membuat siswa lebih aktif, kolaboratif, dan memiliki kesadaran sosial tinggi. -
Reduksi Kesenjangan Akses Belajar
Kurikulum Merdeka tidak lagi mewajibkan seluruh sekolah mengikuti struktur yang sama. Ini memungkinkan sekolah-sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) untuk tetap menjalankan kurikulum sesuai kemampuan tanpa merasa tertinggal. -
Peningkatan Literasi dan Numerasi
Menurut laporan Kemendikbudristek awal 2025, terdapat peningkatan rata-rata skor Asesmen Nasional dalam literasi dan numerasi sebesar 8% di sekolah yang konsisten menjalankan Kurikulum Merdeka dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya.
⚠️ Tantangan di Lapangan
-
Ketimpangan Sumber Daya
Banyak sekolah di daerah masih kekurangan perangkat ajar digital dan literasi kurikulum di kalangan guru belum merata. Guru-guru senior juga mengalami kesulitan beradaptasi dengan pendekatan diferensiasi dan pembelajaran berbasis proyek. -
Beban Administratif Guru
Penyusunan modul ajar dan asesmen formatif seringkali membebani guru, terutama yang mengajar banyak kelas atau di sekolah dengan tenaga pengajar terbatas. -
Masih Ada Ketergantungan pada Sistem Penilaian Tradisional
Di beberapa daerah, sistem pendidikan dan orang tua masih terpaku pada nilai ujian sebagai indikator utama keberhasilan siswa, bukan proses dan kompetensi holistik. -
Implementasi P5 Kurang Maksimal
Tidak semua sekolah memiliki sumber daya atau mitra untuk menjalankan proyek P5 dengan baik. Ada yang menjadikan proyek hanya formalitas tanpa esensi pembelajaran nyata.
Implikasi Jangka Panjang pada Pendidikan Nasional
-
Lebih Personal dan Adaptif:
Siswa akan tumbuh dengan gaya belajar yang sesuai karakter dan kebutuhan mereka. Ini membuka jalan menuju sistem pendidikan berbasis student agency, di mana anak didorong menjadi pelaku utama dalam proses belajar. -
Penguatan Soft Skill dan Karakter:
Profil pelajar Pancasila seperti gotong royong, mandiri, dan bernalar kritis tidak hanya diajarkan, tetapi dialami langsung lewat aktivitas nyata. -
Kesiapan Menghadapi Dunia Kerja dan Globalisasi:
Dengan pembelajaran kontekstual, siswa lebih siap menghadapi dinamika dunia nyata yang membutuhkan kolaborasi, pemecahan masalah, dan kreativitas. -
Daya Saing Sekolah Lebih Sehat:
Sekolah tidak lagi berlomba dalam nilai semata, tetapi dalam kualitas pembelajaran dan inovasi kurikulum. Ini membuka ruang kerja sama antarsekolah, bukan hanya kompetisi.
Kesimpulan
Penerapan Kurikulum Merdeka menunjukkan arah positif dalam perubahan sistem pendidikan Indonesia. Meski masih menghadapi berbagai tantangan teknis dan sosialisasi, kurikulum ini membuka peluang besar untuk menciptakan pendidikan yang lebih manusiawi, relevan, dan inklusif.
Ke depan, keberhasilan Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada:
-
Pelatihan berkelanjutan untuk guru,
-
Dukungan infrastruktur yang merata,
-
Komitmen kepala sekolah dan pemerintah daerah,
-
Partisipasi aktif orang tua dan masyarakat.
“Pendidikan yang merdeka adalah pendidikan yang membebaskan anak dari belenggu ketakutan belajar, dan memberi ruang bagi mereka untuk menjadi dirinya sendiri,” – Nadiem Makarim, Mendikbudristek RI.