Jakarta, 8 September 2026 – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan tiga metode berbeda untuk membantu mengurangi dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Tiga metode tersebut meliputi penyemaian awan menggunakan kalsium klorida atau CaCl2, penyemprotan water mist dengan campuran surfaktan, serta penyemaian natrium klorida atau NaCl. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan setiap metode memiliki karakteristik dan sasaran berbeda sesuai kondisi atmosfer yang ditemukan di lapangan. Operasi dilakukan menggunakan pesawat dengan lokasi keberangkatan yang disesuaikan dengan keamanan penerbangan dan wilayah sasaran. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat peluruhan partikel abu yang masih berada di atmosfer sehingga konsentrasinya secara bertahap berkurang. Pelaksanaan OMC akan terus dievaluasi dengan memperhatikan perkembangan cuaca, aktivitas Gunung Anak Krakatau, serta arah pergerakan material vulkanik.
Metode pertama berupa cloud seeding atau penyemaian awan telah dilakukan pada Senin, 7 September 2026, melalui penerbangan dari Lanud Ahmad Yani, Semarang. Operasi tersebut menyasar awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan di sekitar wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dalam satu operasi, pesawat membawa sekitar 650 liter air yang dicampurkan dengan 350 kilogram CaCl2 untuk kemudian disemprotkan pada awan sasaran. Penggunaan bahan tersebut ditujukan untuk membantu proses pembentukan dan perkembangan butiran air sehingga peluang terjadinya hujan dapat ditingkatkan ketika kondisi atmosfer mendukung. Hujan yang terbentuk diharapkan membantu membawa partikel abu dari atmosfer menuju permukaan sekaligus membersihkan udara secara alami. Penentuan lokasi penyemaian dilakukan berdasarkan analisis meteorologi sehingga operasi tidak dapat dilakukan secara sembarangan tanpa keberadaan awan yang memenuhi kriteria.
Metode kedua mulai dijalankan pada Selasa, 8 September, dengan menggunakan teknik water mist dari Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Berbeda dengan cloud seeding yang menyasar awan potensial, water mist diarahkan pada lapisan atmosfer yang mengandung polutan atau partikel abu. Dalam pelaksanaannya, BNPB menggunakan sekitar 2.000 liter air yang ditambahkan surfaktan kemudian disemprotkan dari pesawat pada area sasaran. Partikel air berukuran halus diharapkan berinteraksi dengan material yang berada di udara sehingga membantu mempercepat proses pengendapan. Teknik tersebut menjadi salah satu alternatif ketika kondisi atmosfer tidak sepenuhnya mendukung pembentukan hujan melalui penyemaian awan. Dengan kombinasi beberapa pendekatan, pemerintah berupaya membuat operasi tetap dapat dilakukan menyesuaikan karakteristik atmosfer yang berubah dari waktu ke waktu.
Metode ketiga adalah penyemaian menggunakan natrium klorida atau NaCl yang juga dilaksanakan melalui penerbangan dari Bandara Pondok Cabe pada Selasa. Sekitar 1.000 kilogram bahan semai digunakan dalam satu sorti dengan sasaran awan yang dinilai memiliki peluang menghasilkan hujan di wilayah penyemaian. NaCl digunakan untuk membantu proses pembentukan butiran air di dalam awan sehingga presipitasi dapat berkembang apabila kondisi meteorologi mendukung. Hujan yang dihasilkan diharapkan mampu membantu membersihkan partikel abu vulkanik sekaligus mengurangi material yang masih melayang di atmosfer. Pemilihan waktu dan titik penyemaian ditentukan berdasarkan pengamatan terhadap awan, arah angin, kelembapan, serta distribusi abu. Karena sangat bergantung pada kondisi atmosfer, hasil setiap sorti OMC dapat berbeda dan harus terus dievaluasi sebelum operasi berikutnya dilakukan.
Pelaksanaan modifikasi cuaca dilakukan bersama sejumlah instansi yang menangani aspek kebencanaan, meteorologi, dan keselamatan penerbangan. Hingga Selasa, operasi telah mencakup beberapa sorti dengan penggunaan bahan semai yang berbeda sesuai kebutuhan. Penyemaian menggunakan NaCl, penyemprotan CaCl2 dalam bentuk cair, dan sejumlah penerbangan water mist menjadi bagian dari rangkaian intervensi tersebut. Pesawat Cessna Caravan digunakan untuk mendukung operasi dari posko penerbangan yang telah ditentukan. Seluruh kegiatan tetap mengutamakan keselamatan mengingat abu vulkanik sendiri memiliki risiko terhadap mesin dan sistem pesawat. Pemerintah karena itu harus memastikan rute penerbangan OMC berada pada kondisi yang memungkinkan sebelum pesawat diberangkatkan untuk menjalankan misi.
Operasi tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah setelah abu vulkanik Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir tersebar ke sejumlah wilayah dan memengaruhi kegiatan masyarakat maupun transportasi udara. Sebaran material sempat menyebabkan penutupan sementara sejumlah bandara karena abu vulkanik dapat membahayakan operasional pesawat. Setelah dilakukan pembersihan dan pengujian, sejumlah bandara mulai kembali beroperasi pada Selasa setelah pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan paparan abu yang membahayakan di area operasional. Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Radin Inten II, Muhammad Taufik Kiemas, serta Salakanagara Tanjung Lesung termasuk fasilitas penerbangan yang kembali dapat menjalankan operasional. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan karena pergerakan abu dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.
Pemantauan pada Selasa menunjukkan abu vulkanik masih teridentifikasi hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki atau sekitar 2,1 kilometer. Sebaran secara umum bergerak menuju selatan hingga barat daya dan mencakup sebagian wilayah Banten bagian barat laut serta perairan Samudra Hindia di sebelah barat laut Banten. Kondisi tersebut membuat operasi modifikasi cuaca tetap diperlukan meskipun kualitas udara di sejumlah wilayah telah menunjukkan perkembangan lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Pemerintah tidak hanya berupaya menurunkan konsentrasi material di udara, tetapi juga mencegah partikel bergerak menuju kawasan dengan kepadatan penduduk dan aktivitas penerbangan tinggi. Data citra satelit, pengamatan meteorologi, serta informasi aktivitas vulkanik terus digunakan untuk menentukan langkah berikutnya. Perubahan arah angin menjadi salah satu faktor penting karena dapat menggeser jalur sebaran abu dalam waktu relatif cepat.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri masih terus dipantau setelah episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam berakhir pada Minggu, 6 September 2026. Karakter erupsi selanjutnya berubah menjadi letusan strombolian yang ditandai ledakan dengan intensitas relatif lebih kecil dibandingkan episode erupsi menerus sebelumnya. Pada Selasa pagi kembali tercatat erupsi strombolian dengan durasi singkat, menunjukkan aktivitas vulkanik belum sepenuhnya berhenti. Status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga sehingga masyarakat dan wisatawan tetap dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung. Potensi lontaran material pijar, hujan abu, serta kemungkinan perubahan karakter erupsi tetap menjadi perhatian. Kondisi tersebut membuat operasi penanganan dampak tidak hanya difokuskan pada situasi saat ini, tetapi juga mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali sebaran material dalam jumlah besar.
Selain menjalankan OMC, BNPB terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menangani dampak abu terhadap masyarakat. Distribusi masker dilakukan di berbagai kawasan terdampak, sementara pembersihan jalan dan fasilitas publik dilaksanakan untuk mencegah abu yang telah mengendap kembali beterbangan. Pemerintah juga meminta fasilitas kesehatan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan munculnya keluhan pada saluran pernapasan, mata, maupun kulit akibat paparan material vulkanik. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk dan tetap menggunakan masker ketika harus bepergian. Kacamata pelindung dapat digunakan pada kawasan dengan paparan abu lebih tinggi untuk mengurangi risiko iritasi mata. Penanganan di darat tersebut berjalan beriringan dengan OMC sehingga pengurangan dampak dilakukan baik terhadap material yang masih berada di atmosfer maupun abu yang sudah mengendap di permukaan.
BNPB memastikan tiga metode modifikasi cuaca tersebut akan terus digunakan secara adaptif dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan perkembangan sebaran abu Gunung Anak Krakatau. Cloud seeding dengan CaCl2 maupun NaCl akan dijalankan ketika tersedia awan yang memenuhi syarat, sedangkan water mist dapat dimanfaatkan untuk membantu menurunkan konsentrasi partikel pada lapisan udara sasaran. Efektivitas setiap operasi akan dipantau sebelum pemerintah menentukan jumlah sorti dan wilayah intervensi berikutnya. Koordinasi dengan BMKG, Kementerian Perhubungan, otoritas penerbangan, pemerintah daerah, serta instansi teknis lainnya juga terus dilakukan untuk menjaga keselamatan selama operasi berlangsung. Pemerintah berharap kombinasi modifikasi cuaca, pembersihan lingkungan, distribusi perlindungan kesehatan, dan pemantauan aktivitas vulkanik dapat mempercepat pemulihan wilayah terdampak. Meski kondisi di sejumlah daerah mulai membaik, masyarakat tetap diminta waspada karena aktivitas Anak Krakatau dan dinamika arah sebaran abu masih dapat berubah sewaktu-waktu.






