Jakarta, 27 Agustus 2026 – Pola makan anak menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena asupan sehari-hari dapat memengaruhi energi, suasana hati, serta kemampuan berkonsentrasi saat belajar. Sejumlah jenis makanan dan minuman yang tinggi gula tambahan, lemak jenuh, atau sangat diproses dapat membuat pola energi anak tidak stabil apabila dikonsumsi terlalu sering. Kondisi tersebut dapat membuat anak lebih mudah merasa lelah, mengantuk, atau sulit mempertahankan perhatian dalam waktu lama. Bukan berarti makanan tersebut harus selalu dilarang, tetapi jumlah dan frekuensi konsumsinya perlu diperhatikan sebagai bagian dari pola makan seimbang. Orang tua dapat membantu anak dengan menyediakan pilihan makanan yang lebih bergizi dan membatasi makanan yang rendah nilai gizi agar kebutuhan tumbuh kembang tetap terpenuhi.

Salah satu jenis makanan yang perlu dibatasi adalah makanan dan minuman dengan kandungan gula tambahan yang tinggi. Permen, minuman bersoda, minuman manis kemasan, serta berbagai makanan ringan manis dapat memberikan asupan energi dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Setelah kadar gula darah meningkat, tubuh akan melakukan penyesuaian sehingga sebagian anak dapat mengalami perubahan energi dan suasana hati. Jika dikonsumsi berlebihan, makanan tinggi gula juga dapat menggantikan makanan yang lebih kaya zat gizi seperti buah, sayuran, protein, dan biji-bijian. Karena itu, orang tua sebaiknya membiasakan anak mengonsumsi air putih dan sumber karbohidrat yang lebih kaya serat dibandingkan menjadikan minuman manis sebagai pilihan utama setiap hari.

Makanan cepat saji juga sebaiknya tidak menjadi menu yang terlalu sering diberikan kepada anak. Burger, kentang goreng, ayam goreng cepat saji, dan produk sejenis biasanya mengandung kombinasi kalori, natrium, serta lemak yang cukup tinggi. Apabila konsumsi dilakukan secara berlebihan dan menggantikan makanan bergizi, pola tersebut dapat membuat kualitas keseluruhan asupan anak menjadi kurang seimbang. Anak membutuhkan protein, lemak sehat, vitamin, mineral, serta serat untuk mendukung pertumbuhan dan fungsi tubuh, termasuk fungsi otak. Makanan cepat saji masih dapat dikonsumsi sesekali sebagai bagian dari pola makan yang fleksibel, tetapi porsinya sebaiknya tidak menggeser kebiasaan makan makanan utuh yang lebih beragam.

Jenis berikutnya adalah makanan ringan ultra-proses yang banyak ditemukan dalam kemasan, seperti keripik, biskuit manis, wafer, dan camilan dengan berbagai rasa. Produk tersebut umumnya dirancang agar memiliki rasa yang kuat sehingga mudah membuat seseorang ingin mengonsumsinya dalam jumlah lebih banyak. Beberapa di antaranya juga memiliki kandungan gula, garam, dan lemak yang cukup tinggi dibandingkan makanan segar. Jika camilan semacam itu terlalu sering dikonsumsi, anak berisiko memperoleh lebih sedikit zat gizi dari makanan yang mendukung pertumbuhan dan aktivitas sehari-hari. Orang tua dapat menggantinya secara bertahap dengan buah potong, kacang-kacangan tanpa tambahan berlebihan, yoghurt rendah gula, atau makanan ringan rumahan dengan komposisi yang lebih mudah dikendalikan.

Makanan yang mengandung lemak trans juga perlu mendapatkan perhatian karena konsumsi berlebihan tidak baik bagi kesehatan secara keseluruhan. Lemak trans dapat ditemukan pada sebagian produk makanan olahan tertentu, terutama jika menggunakan minyak atau bahan yang mengandung lemak terhidrogenasi parsial. Dalam pola makan modern, paparan lemak trans dapat berasal dari berbagai produk kemasan dan makanan yang digoreng menggunakan minyak yang tidak dikelola dengan baik. Orang tua sebaiknya membaca label pangan dan memperhatikan jenis lemak yang terkandung dalam produk sebelum memberikannya kepada anak. Pilihan sumber lemak yang lebih sehat, seperti ikan, alpukat, kacang-kacangan, dan biji-bijian, dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan anak secara keseluruhan.

Makanan dengan kandungan natrium sangat tinggi juga perlu dibatasi, terutama apabila dikonsumsi secara rutin. Mi instan, makanan ringan asin, daging olahan, serta beberapa makanan kemasan dapat memberikan asupan garam cukup tinggi dalam satu porsi. Natrium tetap dibutuhkan tubuh, tetapi jumlah yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan apabila menjadi kebiasaan dalam jangka panjang. Selain memperhatikan jenis makanan, orang tua juga perlu membiasakan anak mengenali rasa alami makanan agar ketergantungan terhadap rasa asin dan gurih tidak semakin tinggi. Kebiasaan tersebut dapat dimulai dengan menyediakan makanan rumahan yang menggunakan garam dan bumbu secara secukupnya.

Selain jenis makanan, jadwal makan dan kualitas pola makan secara keseluruhan juga berperan dalam menjaga kemampuan anak menjalani aktivitas sehari-hari. Anak yang melewatkan sarapan atau terlalu lama tidak makan dapat mengalami rasa lapar yang mengganggu perhatian ketika mengikuti pelajaran. Sarapan dengan kombinasi karbohidrat berserat, protein, buah, dan cairan dapat membantu menyediakan energi untuk memulai aktivitas. Orang tua juga perlu memastikan anak memperoleh waktu tidur yang cukup karena konsentrasi tidak hanya dipengaruhi oleh makanan. Dengan menggabungkan pola makan seimbang, tidur berkualitas, aktivitas fisik, serta kebiasaan belajar yang teratur, kemampuan anak untuk mempertahankan fokus dapat lebih terjaga.

Pada akhirnya, tidak ada satu jenis makanan yang secara otomatis membuat anak kehilangan kemampuan berkonsentrasi. Persoalan yang lebih penting adalah pola konsumsi secara keseluruhan, terutama jika makanan tinggi gula, garam, lemak tidak sehat, dan produk ultra-proses dikonsumsi terlalu sering. Orang tua tidak perlu menerapkan larangan secara berlebihan, tetapi dapat mengajarkan anak mengenai keseimbangan dan pilihan makanan yang lebih baik. Buah, sayuran, sumber protein, biji-bijian, serta lemak sehat dapat lebih sering dimasukkan ke dalam menu harian. Dengan kebiasaan makan yang beragam dan seimbang sejak dini, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh asupan yang mendukung pertumbuhan, kesehatan, serta aktivitas belajar secara optimal.