Jakarta, 19 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto menceritakan filosofi “Margo Ono” ketika memberikan pesan kepada jajaran petinggi Partai Amanat Nasional (PAN) dalam puncak peringatan HUT ke-28 PAN di Jakarta, Jumat, 18 September 2026 malam. Ungkapan tersebut disampaikan Prabowo setelah sebelumnya berkelakar mengenai kondisi keuangan PAN di tengah kemeriahan acara. Prabowo kemudian menghubungkan pesannya dengan kisah mendiang kakeknya, Raden Mas Margono Djojohadikusumo. Menurut Prabowo, nama Margono memiliki makna khusus yang selalu diingatnya ketika menghadapi berbagai kesulitan. Ia memaknai nama tersebut sebagai “Margo Ono” atau “ada jalan”. Cerita keluarga itu digunakan Prabowo untuk menyampaikan pesan optimisme kepada para petinggi PAN agar tetap tenang menghadapi berbagai persoalan.
Dalam pidatonya, Prabowo lebih dahulu menceritakan latar belakang keluarga sang kakek. Menurut cerita yang disampaikannya, Margono lahir dari keluarga yang hidup dalam kondisi sangat terbatas meskipun memiliki latar belakang ningrat. Prabowo menyebut keluarganya menjadi miskin karena pada masa sebelumnya ikut dalam perjuangan Pangeran Diponegoro melawan pemerintah kolonial Belanda. Margono merupakan anak kedua dalam keluarga tersebut. Ketika Margono lahir, ayahnya disebut memiliki firasat bahwa anak itu kelak akan membawa keluarganya keluar dari kemiskinan. Harapan tersebut kemudian diwujudkan melalui pemberian nama Margono yang oleh Prabowo dikaitkan dengan ungkapan Jawa “Margo Ono”.
Prabowo menjelaskan bahwa “Margo Ono” dapat dimaknai sebagai “ada jalan”. Filosofi tersebut kemudian menjadi salah satu pegangan yang diingatnya setiap kali menghadapi situasi sulit. Bagi Prabowo, pesan itu menggambarkan keyakinan bahwa persoalan tidak harus membuat seseorang kehilangan harapan karena selalu terdapat kemungkinan menemukan jalan keluar. Cerita tersebut tidak hanya disampaikan sebagai kisah mengenai asal-usul nama kakeknya, tetapi juga menjadi bagian dari pesan kepada para kader PAN yang hadir. Prabowo menghubungkannya dengan pentingnya tetap optimistis ketika menghadapi keterbatasan. Dalam suasana yang diselingi kelakar, Presiden meminta jajaran pimpinan PAN untuk tetap tenang dan percaya bahwa persoalan yang mereka hadapi dapat diselesaikan.
Pesan tersebut muncul setelah Prabowo bergurau mengenai kondisi finansial PAN. Ia mengaku terkesan melihat kemeriahan peringatan HUT ke-28 PAN yang berlangsung di Jakarta Convention Center. Prabowo bahkan meminta jajaran Partai Gerindra memperhatikan bagaimana PAN menyelenggarakan acara besar tersebut. Di tengah pujiannya, Presiden kemudian melontarkan candaan bahwa sejumlah pemimpin PAN tetap tersenyum meskipun menurutnya sedang menghadapi keterbatasan dana. Ia juga menyebut Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan mantan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa dalam kelakarnya. Dari candaan mengenai persoalan keuangan itulah Prabowo kemudian beralih menyampaikan filosofi “Margo Ono” sebagai pesan agar para petinggi PAN tidak kehilangan keyakinan.
Prabowo mengatakan dirinya memahami persoalan yang sedang dihadapi para petinggi PAN sehingga mereka tidak perlu menjelaskannya secara panjang lebar kepadanya. Dalam konteks kelakar mengenai pembiayaan acara, Presiden menggambarkan Zulhas dan Hatta tetap tampil tenang meskipun memikirkan bagaimana menyelesaikan kewajiban keuangan. Ia kemudian kembali mengingatkan ungkapan “Margo Ono”. Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana santai dan mengundang respons dari peserta acara. Prabowo juga menggunakan ungkapan Jawa lainnya, “Gusti Allah mboten sare”, untuk menyampaikan pesan agar tetap memiliki keyakinan ketika menghadapi kesulitan. Keseluruhan bagian tersebut merupakan kelakar sekaligus cerita pribadi Prabowo dalam pidatonya, bukan pemaparan resmi mengenai laporan keuangan PAN.
Sosok Margono Djojohadikusumo yang diceritakan Prabowo memiliki posisi penting dalam sejarah keluarga Djojohadikusumo maupun perjalanan awal Republik Indonesia. Margono merupakan ayah dari ekonom Sumitro Djojohadikusumo dan kakek dari Prabowo Subianto. Ia tercatat ikut terlibat dalam proses menjelang kemerdekaan Indonesia, termasuk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI. Margono juga dikenal sebagai pendiri Bank Negara Indonesia. Setelah BNI didirikan pada masa awal kemerdekaan, ia menjadi direktur utama pertama bank tersebut. Latar belakang itulah yang membuat kisah perjalanan Margono dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi menjadi bagian penting dari cerita yang disampaikan Prabowo di hadapan kader PAN.
Cerita mengenai “Margo Ono” menjadi salah satu bagian dari pidato Prabowo yang banyak membahas kedekatannya dengan PAN. Dalam kesempatan yang sama, Presiden menggambarkan PAN sebagai sahabat dan kawan seperjuangan yang telah bersamanya dalam perjalanan politik selama bertahun-tahun. Prabowo menyinggung arti kesetiaan dan persahabatan ketika menghadapi keadaan yang mudah maupun sulit. Menurutnya, hubungan yang kuat tidak hanya terlihat ketika situasi sedang menguntungkan, tetapi juga ketika menghadapi tantangan. Pesan tersebut sejalan dengan filosofi “Margo Ono” yang digunakannya untuk menekankan pentingnya menjaga keyakinan ketika muncul persoalan. Suasana pidato pun bergerak antara pembahasan serius mengenai nilai perjuangan dan sejumlah kelakar kepada para pengurus PAN.
Puncak peringatan HUT ke-28 PAN tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat negara dan pimpinan partai politik. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hadir bersama sejumlah menteri dan pimpinan lembaga negara. Ketua MPR Ahmad Muzani, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia serta sejumlah pejabat lainnya turut menghadiri acara tersebut. Prabowo datang dalam perayaan itu bersama sejumlah tokoh yang juga memiliki keterkaitan dengan partai maupun pemerintahan. Kehadiran berbagai tokoh membuat peringatan hari jadi PAN menjadi salah satu agenda politik nasional yang mendapat perhatian pada Jumat malam. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga membahas sejumlah program pemerintah yang menurutnya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menjelang mengakhiri pidatonya, Prabowo kembali membawa suasana acara menjadi lebih ringan dengan membacakan dua pantun untuk PAN. Pantun tersebut menyinggung perjalanan PAN selama 28 tahun, kepemimpinan Zulkifli Hasan serta harapan agar partai terus berkontribusi kepada masyarakat. Momen itu melengkapi pidato yang sebelumnya diwarnai cerita mengenai keluarga, persahabatan politik dan filosofi “Margo Ono”. Bagi Prabowo, ungkapan yang dikaitkan dengan nama kakeknya tersebut menjadi pengingat pribadi bahwa selalu ada jalan ketika menghadapi kesulitan. Pesan yang sama kemudian disampaikannya kepada para petinggi PAN di tengah kelakar mengenai kondisi keuangan dan pembiayaan perayaan ulang tahun partai. Filosofi sederhana itu menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam sambutan Presiden pada puncak HUT ke-28 PAN.





