Jakarta, 20 September 2026 – Usianya baru 16 tahun, tetapi Radinka Wiratama sudah mendapat kesempatan mengenakan seragam tim nasional Indonesia di salah satu panggung olahraga terbesar Asia. Atlet eFootball tersebut menjadi anggota termuda dalam kontingen esports Indonesia yang dipersiapkan menghadapi Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang. Hampir dua bulan terakhir, rutinitas Radinka berubah karena sebagian besar waktunya dihabiskan mengikuti pemusatan latihan nasional. Aktivitas sekolah yang biasanya menjadi keseharian remaja seusianya harus disesuaikan dengan jadwal latihan intensif. Dari pagi hingga sore, waktunya dipenuhi latihan teknis, apel, evaluasi, serta persiapan pertandingan. Kesempatan tampil di Asian Games menjadi pencapaian penting dalam perjalanan karier profesionalnya yang masih terbilang sangat muda.
Radinka mulai mengenal gim sejak duduk di kelas tiga sekolah dasar. Mobile Legends menjadi salah satu permainan yang lebih dahulu menarik perhatiannya sebelum kemudian beralih ke permainan sepak bola digital. Ketertarikannya terhadap eFootball mulai berkembang sekitar 2020 ketika permainan tersebut semakin populer di kalangan teman-temannya. Awalnya ia bermain sebatas untuk bersenang-senang dan mengikuti rasa penasaran. Seiring waktu, Radinka mulai meningkatkan intensitas latihan dan mencoba mengikuti kompetisi. Kemampuannya kemudian berkembang hingga membawanya masuk ke lingkungan esports profesional. Pada awal 2025, ketika masih berusia 15 tahun, ia mulai menjalani karier sebagai atlet profesional.
Keputusan tersebut tidak langsung berjalan tanpa kekhawatiran dari keluarga. Orang tua Radinka sempat mempertanyakan keseriusannya karena pendidikan tetap menjadi prioritas bagi remaja seusianya. Namun, perkembangan kemampuan dan pencapaian yang diraih secara perlahan membuat keluarga mulai melihat bahwa aktivitas bermain gim dapat dijalani sebagai jalur prestasi apabila dilakukan secara disiplin. Dukungan keluarga kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Radinka. Selama mengikuti pelatnas, ia sesekali pulang karena rumahnya tidak terlalu jauh dari lokasi latihan. Meski demikian, lebih sering keluarganya yang datang untuk menjenguk ketika jadwal latihan membuatnya harus tetap berada di pemusatan latihan. Radinka menyadari pilihan menjadi atlet profesional membuatnya harus mengurangi waktu bersama teman maupun kegiatan sekolah.
Perjalanan kompetitif Radinka berkembang cepat setelah memasuki lingkungan profesional. Ia pernah merasakan persaingan internasional dan mencapai empat besar dalam salah satu kompetisi yang diikutinya. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan memahami tekanan ketika menghadapi pemain dari negara lain. Tidak lama kemudian, peluang yang lebih besar datang ketika namanya masuk skuad tim nasional esports Indonesia untuk Asian Games 2026. Indonesia menyiapkan total 34 atlet esports untuk bertanding pada delapan nomor di Aichi-Nagoya. Radinka bersama Rizky Faidan dipercaya memperkuat Indonesia pada nomor eFootball. Radinka berasal dari DKI Jakarta, sedangkan Faidan tercatat mewakili Bandung, Jawa Barat, dalam daftar kontingen.
Dalam nomor eFootball, Radinka mempunyai peran berbeda dari Faidan. Radinka akan bermain menggunakan platform mobile, sedangkan Faidan bertanding pada sektor PC atau konsol. Hasil pertandingan keduanya kemudian diperhitungkan melalui sistem agregat sehingga performa masing-masing memiliki pengaruh terhadap hasil akhir tim. Format tersebut membuat koordinasi menjadi bagian penting dalam persiapan mereka. Radinka menganggap Faidan bukan sekadar rekan satu tim, tetapi juga senior yang menjadi tempatnya belajar selama pelatnas. Pengalaman Faidan di berbagai kompetisi internasional memberikan kesempatan kepada Radinka memperoleh pengetahuan yang tidak selalu bisa didapatkan melalui latihan mandiri. Keduanya dijadwalkan menjalani pertandingan eFootball Asian Games pada 23 September 2026 di Aichi Sky Expo.
Menjelang pertandingan, Radinka menilai Jepang, Thailand, dan Malaysia sebagai beberapa negara yang patut diperhatikan dalam persaingan eFootball. Namun, ia berusaha tidak menjadikan kekuatan lawan sebagai tekanan berlebihan. Rasa gugup tetap muncul, terutama karena Asian Games akan menjadi pengalaman pertamanya tampil dalam ajang multievent olahraga tingkat Asia. Untuk menjaga konsentrasi, Radinka mempunyai beberapa kebiasaan sebelum pertandingan. Ia biasa berdoa, mendengarkan musik, melakukan visualisasi, serta mengatur pernapasan agar lebih tenang. Pelatnas juga memberikan pembekalan psikologi kepada para atlet selain latihan teknis. Pendekatan tersebut dilakukan agar kesiapan mental berjalan seiring dengan kemampuan bermain ketika menghadapi tekanan pertandingan.
Persiapan tim bahkan mencakup penyesuaian pola tidur dan jam latihan dengan jadwal pertandingan di Jepang. Atlet dibiasakan bermain pada waktu yang mendekati jadwal kompetisi agar kondisi tubuh tidak mengalami perubahan drastis ketika tiba di Aichi-Nagoya. Bagi Radinka, rangkaian tersebut merupakan bagian dari tuntutan menjadi atlet profesional. Ia harus menjaga konsistensi latihan sekaligus terus mempelajari perubahan strategi dan meta permainan. Kedisiplinan menjadi salah satu prinsip yang dianggap penting dalam perkembangannya. Hal sederhana seperti datang tepat waktu dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab seorang atlet. Radinka juga berusaha mempertahankan semangat belajar karena karakter permainan esports dapat berubah mengikuti pembaruan sistem maupun strategi lawan.
Meski fokus menghadapi Asian Games, Radinka belum meninggalkan rencana pendidikannya. Setelah menyelesaikan SMA, ia membuka kemungkinan melanjutkan kuliah sambil mempertahankan karier sebagai atlet esports. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tetap masuk dalam rencana jangka panjangnya meskipun saat ini sebagian besar perhatian diarahkan pada kompetisi. Radinka memahami karier atlet memiliki dinamika yang berbeda dengan jalur pendidikan formal. Karena itu, ia berusaha menjalankan kesempatan yang tersedia tanpa menutup pilihan lain untuk masa depannya. Pada usia 16 tahun, perjalanan profesionalnya masih berada pada tahap awal. Asian Games menjadi salah satu ujian terbesar yang sejauh ini pernah dihadapinya.
Dari permainan yang awalnya dilakukan bersama teman, eFootball kini membawa Radinka menuju panggung Asian Games dengan seragam Merah Putih. Status sebagai anggota termuda tidak membuatnya merasa berbeda dari atlet yang lebih senior karena seluruh anggota tim membawa tujuan yang sama saat mewakili Indonesia. Lingkungan pelatnas justru dimanfaatkannya sebagai tempat belajar dari pemain yang telah lebih dahulu mempunyai pengalaman internasional. Radinka kini menghadapi kesempatan untuk menguji kemampuan di tengah persaingan pemain terbaik Asia. Apa pun hasil yang diperoleh nantinya, Asian Games 2026 menjadi pengalaman penting dalam fase awal kariernya sebagai atlet profesional. Perjalanan dari seorang anak yang penasaran dengan permainan sepak bola digital hingga masuk tim nasional memperlihatkan perkembangan pesat yang dicapainya dalam beberapa tahun. Bagi Radinka Wiratama, panggung Aichi-Nagoya menjadi babak baru dari perjalanan esports yang baru saja dimulai.





