Jakarta, 2 September 2026 – Pengalaman imersif Purwacarita Borobudur yang hadir di Jakarta dinilai dapat menjadi salah satu cara baru untuk menarik wisatawan berkunjung langsung ke Candi Borobudur. Program tersebut membawa kisah sejarah, budaya, arsitektur dan makna spiritual Borobudur ke dalam ruang digital yang lebih interaktif. Kehadiran pengalaman seperti ini diharapkan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi justru membangkitkan rasa ingin tahu masyarakat untuk melihat langsung warisan budaya tersebut. Dengan pendekatan teknologi, sejarah Borobudur diperkenalkan melalui cara yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi masa kini. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya memperluas promosi Borobudur di luar kawasan destinasi.
Purwacarita Borobudur dibuka di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, mulai 1 September 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga Desember. Pengunjung dapat menikmati pengalaman tersebut secara gratis dengan memanfaatkan teknologi imersif yang memadukan visual, narasi sejarah dan ruang interaktif. Materi yang ditampilkan tidak hanya berfokus pada bentuk fisik candi, tetapi juga mengajak pengunjung mengenal perjalanan pembentukan Borobudur serta nilai yang terkandung di dalamnya. Pendekatan ini membuat masyarakat dapat memperoleh gambaran mengenai Borobudur sebelum akhirnya merencanakan perjalanan ke Magelang. Pengalaman digital tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk mengenalkan destinasi secara lebih luas.
Salah satu hal yang diangkat dalam Purwacarita Borobudur adalah kisah mengenai asal-usul penciptaan candi dan konsep kosmologi yang melatarbelakangi pembangunannya. Pengunjung juga diperkenalkan dengan sejumlah relief, termasuk Karmawibhangga dan Avadana, yang memiliki nilai sejarah dan narasi tersendiri. Materi tersebut disajikan melalui teknologi visual sehingga sejarah tidak hanya disampaikan dalam bentuk teks atau informasi konvensional. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan yang dikembangkan dengan pendekatan etis juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Dengan cara itu, informasi mengenai warisan budaya dapat disampaikan secara lebih menarik tanpa menghilangkan konteks sejarahnya.
Kehadiran Purwacarita juga menjawab tantangan dalam memperkenalkan Borobudur kepada generasi muda. Selama ini, kunjungan ke candi terkadang lebih banyak berorientasi pada aktivitas berfoto dibandingkan memahami cerita dan nilai yang terdapat di balik bangunan bersejarah tersebut. Pengalaman imersif dapat menjadi sarana untuk memberikan pemahaman awal sebelum wisatawan datang langsung ke lokasi. Setelah mengetahui cerita mengenai relief, arsitektur dan filosofi Borobudur, pengunjung diharapkan memiliki alasan yang lebih kuat untuk melihatnya secara langsung. Pengalaman tersebut juga dapat membuat perjalanan wisata terasa lebih bermakna karena wisatawan telah memiliki konteks mengenai apa yang mereka lihat.
Candi Borobudur sendiri merupakan salah satu warisan budaya paling penting di Indonesia dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1991. Kompleks Borobudur tidak hanya terdiri dari bangunan utama, tetapi juga berkaitan dengan Candi Pawon dan Candi Mendut dalam kawasan warisan budaya tersebut. Arsitekturnya menggambarkan perjalanan spiritual melalui susunan teras, stupa dan relief yang mengelilingi bangunan. Ribuan panel relief yang terdapat pada kompleks candi menjadi bagian penting dari kekayaan sejarah yang dapat dipelajari wisatawan. Karena itu, pengalaman digital seperti Purwacarita dapat menjadi sarana awal untuk membantu masyarakat memahami bahwa Borobudur bukan sekadar objek untuk berfoto.
Dari sisi pariwisata, strategi tersebut berpotensi memperkuat keinginan wisatawan untuk datang langsung ke Magelang. Promosi destinasi tidak lagi hanya mengandalkan gambar atau video, tetapi dapat memberikan pengalaman awal yang lebih mendalam kepada calon wisatawan. Ketika rasa penasaran muncul setelah menikmati pengalaman imersif, masyarakat dapat melanjutkannya dengan mengunjungi kawasan Borobudur secara langsung. Hal ini juga membuka peluang bagi wisatawan untuk menikmati berbagai aktivitas lain di sekitar kawasan, termasuk desa wisata, kuliner, kerajinan dan atraksi budaya. Dampaknya diharapkan tidak hanya dirasakan oleh pengelola candi, tetapi juga masyarakat dan pelaku usaha di sekitar destinasi.
Minat terhadap Borobudur sendiri tetap terlihat dari tingginya kunjungan wisatawan pada sejumlah periode liburan. Pada masa libur sekolah 2026, Candi Borobudur tercatat menjadi salah satu dari lima destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi di Jawa Tengah dengan puluhan ribu kunjungan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Borobudur masih memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi wisata budaya. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan ketertarikan tersebut sekaligus membuat wisatawan memahami nilai sejarah dan budaya yang dimiliki kawasan. Inovasi berbasis teknologi dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan promosi tanpa menggantikan pengalaman fisik di lokasi.
Pada akhirnya, Purwacarita Borobudur dapat dipandang sebagai jembatan antara teknologi modern dan warisan budaya masa lalu. Pengunjung di Jakarta mendapatkan kesempatan mengenal Borobudur melalui pengalaman visual dan interaktif, sementara destinasi aslinya tetap menjadi tujuan utama yang ingin mereka eksplorasi. Strategi semacam ini dapat membantu mengubah cara masyarakat melihat wisata budaya, dari sekadar kunjungan singkat menjadi pengalaman yang memiliki cerita dan pemahaman. Jika rasa ingin tahu yang dibangun melalui Purwacarita berhasil mendorong lebih banyak orang datang ke Magelang, program tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pameran, tetapi juga menjadi bagian dari promosi pariwisata Borobudur secara lebih luas.





