Jakarta, 13 September 2026 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia mendorong penguatan perdagangan antarnegara anggota BRICS agar kerja sama ekonomi yang dibangun dapat memberikan manfaat lebih besar bagi dunia usaha. Indonesia dinilai memiliki peluang memperluas akses pasar melalui kelompok ekonomi tersebut karena BRICS mencakup sejumlah negara dengan populasi, sumber daya, dan kapasitas produksi yang besar. Untuk memaksimalkan peluang itu, Kadin mengusulkan tiga langkah utama yang dapat menjadi perhatian pemerintah dan pelaku usaha. Strategi tersebut mencakup peningkatan fasilitasi perdagangan, penguatan konektivitas dan rantai pasok, serta pemanfaatan kerja sama investasi untuk mendorong aktivitas ekonomi lintas negara. Ketiga langkah tersebut dinilai saling berkaitan karena peningkatan perdagangan membutuhkan dukungan regulasi, infrastruktur, pembiayaan, dan hubungan bisnis yang lebih kuat. Indonesia juga perlu memastikan keterlibatannya dalam BRICS mampu membuka peluang konkret bagi perusahaan nasional, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah.
Langkah pertama yang dinilai penting adalah memperkuat fasilitasi perdagangan agar arus barang dan jasa antarnegara BRICS dapat berlangsung lebih efisien. Hambatan administratif, prosedur kepabeanan, perbedaan standar, serta berbagai persyaratan teknis masih dapat menjadi kendala bagi perusahaan ketika memasuki pasar baru. Penyederhanaan proses dan peningkatan harmonisasi standar dapat membantu menekan biaya perdagangan sekaligus mempercepat waktu pengiriman barang. Digitalisasi dokumen perdagangan juga menjadi bagian yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi transaksi. Pemerintah bersama dunia usaha perlu mengidentifikasi hambatan yang paling sering ditemui eksportir sehingga penyelesaiannya dapat dibahas melalui forum kerja sama BRICS. Kemudahan perdagangan tersebut penting agar keanggotaan Indonesia tidak hanya menghasilkan hubungan diplomatik, tetapi juga meningkatkan transaksi ekonomi secara nyata.
Strategi kedua berkaitan dengan penguatan konektivitas dan rantai pasok antarnegara anggota. Jarak geografis yang cukup jauh antara sejumlah negara BRICS membuat efisiensi logistik menjadi salah satu faktor penentu daya saing perdagangan. Indonesia membutuhkan konektivitas pelabuhan, jalur pelayaran, transportasi udara, serta jaringan distribusi yang mampu menghubungkan produk nasional dengan pasar tujuan secara kompetitif. Penguatan rantai pasok juga dapat dilakukan dengan membangun hubungan yang lebih langsung antara produsen, pemasok bahan baku, perusahaan logistik, dan pembeli di negara anggota. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi, pelaku usaha Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap jalur perdagangan yang terlalu panjang. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membantu menekan biaya logistik dan memberikan kepastian lebih baik bagi perusahaan yang melakukan ekspor maupun impor.
Langkah ketiga adalah mendorong kerja sama investasi yang dapat memperbesar kapasitas produksi sekaligus menciptakan perdagangan baru. Investasi dari negara BRICS dapat diarahkan pada sektor yang mempunyai nilai tambah tinggi dan mendukung pengembangan industri nasional. Indonesia tidak hanya membutuhkan aliran modal, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta pembentukan rantai produksi yang melibatkan perusahaan dalam negeri. Investasi yang masuk diharapkan mampu memperkuat kemampuan industri Indonesia menghasilkan barang dengan daya saing lebih tinggi untuk pasar domestik maupun ekspor. Pada saat bersamaan, perusahaan Indonesia juga memiliki peluang memperluas investasi ke negara BRICS yang menawarkan pasar dan sumber daya potensial. Hubungan investasi dua arah tersebut dapat menciptakan fondasi perdagangan yang lebih berkelanjutan dibandingkan sekadar transaksi jual beli jangka pendek.
Kadin melihat BRICS sebagai salah satu ruang penting untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor Indonesia. Selama ini perdagangan nasional memiliki sejumlah mitra utama yang memberikan kontribusi besar terhadap ekspor maupun impor. Diversifikasi diperlukan agar aktivitas perdagangan tidak terlalu bergantung pada jumlah pasar yang terbatas, terutama ketika perekonomian global menghadapi ketidakpastian. Negara-negara BRICS menawarkan karakter pasar yang beragam, mulai dari negara dengan basis konsumen sangat besar hingga produsen utama energi, pangan, mineral, dan produk manufaktur. Perbedaan karakter tersebut dapat menciptakan peluang perdagangan yang saling melengkapi apabila Indonesia mampu menentukan sektor prioritas secara tepat. Pelaku usaha juga perlu memperoleh informasi pasar yang lebih lengkap agar dapat menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen di masing-masing negara.
Penguatan perdagangan melalui BRICS juga harus memberikan ruang lebih besar kepada UMKM untuk memasuki pasar internasional. Selama ini perusahaan berskala besar relatif memiliki sumber daya lebih memadai untuk melakukan ekspansi, sedangkan pelaku usaha kecil masih menghadapi kendala pembiayaan, sertifikasi, promosi, logistik, dan akses terhadap pembeli. Kadin menilai dukungan terhadap UMKM perlu menjadi bagian dari agenda penguatan perdagangan internasional Indonesia. Pemanfaatan platform digital dapat menjadi salah satu jalur untuk mempertemukan produsen nasional dengan konsumen maupun mitra bisnis di negara lain. Pendampingan mengenai standar produk dan prosedur ekspor juga diperlukan agar UMKM mampu memenuhi persyaratan pasar tujuan. Dengan pendekatan tersebut, manfaat perdagangan BRICS dapat menjangkau lebih banyak lapisan dunia usaha dan tidak terkonsentrasi pada perusahaan besar.
Sektor komoditas dan sumber daya alam tetap mempunyai posisi penting dalam hubungan ekonomi Indonesia dengan sejumlah anggota BRICS. Namun, peningkatan nilai perdagangan dalam jangka panjang membutuhkan penguatan hilirisasi agar produk yang dipasarkan mempunyai nilai tambah lebih besar. Indonesia memiliki peluang mengembangkan ekspor produk manufaktur, makanan dan minuman olahan, produk berbasis mineral, komponen industri, hingga berbagai produk ekonomi kreatif. Hilirisasi dapat membuat manfaat perdagangan tidak berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi juga menciptakan aktivitas produksi dan lapangan kerja di dalam negeri. Strategi tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia meningkatkan kualitas struktur ekspornya. Pasar BRICS yang luas dapat menjadi salah satu tujuan bagi produk hasil hilirisasi apabila kualitas, harga, dan kontinuitas pasokan mampu memenuhi kebutuhan pembeli.
Aspek pembiayaan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam memperkuat hubungan perdagangan. Perusahaan membutuhkan akses terhadap pembiayaan ekspor, penjaminan, asuransi perdagangan, serta mekanisme transaksi yang efisien untuk melakukan ekspansi ke pasar baru. Risiko nilai tukar dan ketidakpastian pembayaran dapat menjadi pertimbangan bagi pelaku usaha ketika bertransaksi dengan mitra dari negara yang belum banyak mereka kenal. Karena itu, penguatan hubungan antarlembaga keuangan dan perbankan di negara BRICS dapat membantu memberikan pilihan transaksi yang lebih luas. Mekanisme pembayaran yang efisien tetap harus dibangun dengan memperhatikan stabilitas, transparansi, dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku. Dukungan pembiayaan yang kuat akan membuat perusahaan memiliki keberanian lebih besar untuk menjajaki pasar dan membangun hubungan dagang jangka panjang.
Kadin juga menilai peran sektor swasta harus diperkuat dalam setiap pembahasan kerja sama ekonomi BRICS. Kesepakatan di tingkat pemerintah membutuhkan tindak lanjut berupa hubungan langsung antarpelaku usaha agar dapat menghasilkan kontrak perdagangan maupun investasi. Forum bisnis, pertemuan antarpengusaha, pameran perdagangan, dan kegiatan penjajakan mitra dapat digunakan untuk mempertemukan perusahaan Indonesia dengan calon pembeli maupun investor. Dialog yang rutin juga memungkinkan dunia usaha menyampaikan berbagai hambatan yang ditemui ketika menjalankan transaksi lintas negara. Pemerintah kemudian dapat menggunakan masukan tersebut sebagai bahan dalam pembahasan kebijakan dengan negara mitra. Kolaborasi pemerintah dan sektor swasta menjadi penting agar kerja sama BRICS menghasilkan manfaat yang dapat diukur melalui peningkatan perdagangan, investasi, dan pembukaan lapangan kerja.
Tiga strategi berupa fasilitasi perdagangan, penguatan konektivitas dan rantai pasok, serta perluasan kerja sama investasi pada akhirnya diarahkan untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari keterlibatan Indonesia di BRICS. Kadin mendorong agar peluang yang terbuka segera diterjemahkan menjadi program konkret yang dapat dimanfaatkan dunia usaha. Indonesia mempunyai kepentingan untuk memperluas pasar ekspor sekaligus menarik investasi berkualitas yang mendukung peningkatan kapasitas industri nasional. Pada saat bersamaan, kepentingan produsen dalam negeri dan UMKM perlu tetap diperhatikan agar peningkatan keterbukaan pasar menghasilkan manfaat yang seimbang. Penguatan daya saing, hilirisasi, efisiensi logistik, dan dukungan pembiayaan akan menjadi faktor penting dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan strategi yang terarah, kerja sama antarnegara BRICS diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu pendorong baru bagi perdagangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.





