Jakarta, 4 Oktober 2026 – Iran menegaskan tetap membuka jalur diplomasi dengan Amerika Serikat, namun pada saat yang sama siap menghadapi kemungkinan berlanjutnya konfrontasi militer. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengatakan Teheran tidak akan gentar menghadapi tekanan Washington dan akan mempertahankan kepentingan nasionalnya. Pernyataan itu muncul ketika komunikasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung melalui mediator.
Qalibaf mengatakan Iran akan menggunakan kemampuan militernya sekaligus instrumen diplomasi dalam menghadapi perkembangan konflik. Menurut dia, kesiapan menghadapi perang tidak berarti Teheran menutup peluang perundingan. Iran justru memandang kekuatan pertahanan dan diplomasi sebagai dua instrumen yang dapat berjalan bersamaan dalam memperjuangkan kepentingannya.
Washington disebut telah menyampaikan sejumlah proposal melalui mediator setelah Iran menawarkan rencana tujuh hari untuk menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Komunikasi tersebut menunjukkan saluran antara kedua negara masih berjalan meskipun hubungan mereka berada dalam situasi tegang. Qatar menjadi salah satu pihak yang berperan dalam menjembatani komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Iran menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya persyaratan yang telah diajukan Teheran. Qalibaf menyatakan jalur strategis tersebut tidak akan kembali dibuka sepenuhnya sampai tujuh syarat berdasarkan kerangka yang disebut Memorandum Islamabad terpenuhi. Posisi itu membuat pembahasan mengenai Hormuz menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mencari jalan keluar diplomatik.
Persyaratan yang sebelumnya disampaikan Iran kepada Amerika Serikat antara lain mencakup penghentian permusuhan secara menyeluruh, pembebasan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Teheran menyampaikan syarat tersebut melalui mediator Qatar sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik. Hingga kini, kedua pihak masih berbeda pandangan mengenai tahapan yang harus ditempuh untuk mencapai penyelesaian.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan negaranya tetap siap menempuh diplomasi. Namun, ia memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons lebih kuat apabila kembali menghadapi serangan militer. Araghchi menilai penyelesaian melalui perundingan merupakan jalan yang dapat ditempuh apabila dilakukan berdasarkan prinsip keadilan dan penghormatan terhadap kepentingan masing-masing pihak.
Perkembangan tersebut menunjukkan jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup meskipun ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih tinggi. Pertukaran proposal melalui mediator menjadi indikasi kedua pihak tetap memiliki saluran komunikasi untuk membahas kemungkinan penyelesaian. Pada saat bersamaan, pernyataan pejabat Iran mengenai kesiapan militer menunjukkan Teheran tetap mempertahankan posisi pertahanannya selama belum tercapai kesepakatan yang dapat diterima kedua pihak.





