Aceh Besar, 4 September 2026 – Kodim 0101/Kota Banda Aceh (KBA) menyalurkan bantuan empat unit mesin pompa air kepada kelompok tani di Kabupaten Aceh Besar untuk membantu mengatasi dampak kekeringan yang melanda lahan pertanian. Bantuan tersebut diberikan kepada kelompok tani yang berada di Kecamatan Ingin Jaya dan Kecamatan Blang Bintang, dua wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan air untuk menjaga tanaman tetap tumbuh selama musim kemarau. Dandim 0101/Kota Banda Aceh Kolonel Inf Faurizal Noerdin mengatakan bantuan mesin pompa menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam membantu masyarakat, khususnya petani yang menghadapi keterbatasan pengairan. Mesin tersebut diharapkan dapat digunakan untuk mengalirkan air menuju sawah sehingga tanaman yang masih berada dalam masa pertumbuhan tidak mengalami kekurangan air berkepanjangan. Dukungan sarana pengairan juga diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengurangi risiko kerugian yang harus ditanggung petani. Penyaluran bantuan menjadi bagian dari kegiatan sosial Kodim sekaligus dukungan terhadap upaya memperkuat ketahanan dan swasembada pangan nasional.
Faurizal menjelaskan ketersediaan air menjadi salah satu kebutuhan paling penting bagi petani ketika musim kemarau berlangsung dalam waktu panjang. Berkurangnya pasokan dari jaringan irigasi maupun sumber air lainnya dapat menyebabkan sawah mengalami kekeringan, terutama pada wilayah yang sangat bergantung terhadap kondisi cuaca. Dengan keberadaan mesin pompa, petani mempunyai alternatif untuk mengambil air dari sumber yang masih tersedia kemudian mendistribusikannya menuju lahan yang membutuhkan. Penggunaan pompa diharapkan dapat dilakukan secara terkoordinasi sehingga manfaatnya menjangkau sebanyak mungkin lahan pertanian. Kodim juga meminta bantuan tersebut dirawat dengan baik agar dapat digunakan dalam jangka panjang dan tidak hanya ketika menghadapi kondisi darurat saat ini. Pengelolaan secara bersama oleh kelompok tani dinilai penting untuk memastikan penggunaan peralatan berlangsung efektif dan sesuai kebutuhan di lapangan.
Penyaluran empat mesin pompa tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan Kodim 0101/Kota Banda Aceh. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat yang membutuhkan dukungan langsung, termasuk persoalan kekeringan pada sektor pertanian. TNI AD melalui jajaran teritorial memiliki hubungan yang dekat dengan masyarakat sehingga kondisi di lapangan dapat diketahui melalui komunikasi dengan petani maupun pemerintah setempat. Informasi mengenai kebutuhan pengairan kemudian menjadi salah satu dasar pemberian bantuan peralatan. Faurizal berharap dukungan tersebut tidak hanya membantu mempertahankan tanaman yang sedang tumbuh, tetapi juga memberikan rasa aman kepada petani yang khawatir terhadap dampak kemarau. Produktivitas pertanian perlu dipertahankan karena sektor tersebut menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di Aceh Besar.
Ancaman kekeringan terhadap pertanian di Aceh Besar memang membutuhkan perhatian karena wilayah tersebut memiliki areal persawahan yang cukup luas. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar, luas lahan sawah irigasi di daerah tersebut mencapai sekitar 14.138 hektare. Selain itu, terdapat sekitar 8.053 hektare sawah tadah hujan yang memiliki ketergantungan lebih besar terhadap kondisi curah hujan. Ketika kemarau berlangsung panjang, lahan tadah hujan menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami kekurangan pasokan air. Sawah dengan jaringan irigasi juga dapat menghadapi persoalan apabila debit sumber air mengalami penurunan signifikan. Kondisi tersebut membuat pengaturan distribusi air serta penggunaan pompa menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan produksi pertanian.
Penanganan kekeringan sebenarnya juga telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar bersama sejumlah instansi terkait. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar Imam Munandar menyatakan pihaknya bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera I dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Besar untuk mengerahkan mesin pompa ke wilayah terdampak. Sedikitnya sepuluh unit pompa telah dikerahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air sawah di sejumlah kecamatan. Peralatan tersebut diberikan melalui mekanisme pinjam pakai kepada petani sehingga dapat dipindahkan sesuai tingkat kebutuhan di lapangan. Pengerahan pompa menjadi solusi jangka pendek untuk mempertahankan tanaman ketika pasokan air alami mengalami penurunan. Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan agar peralatan dapat ditempatkan pada wilayah yang memiliki kebutuhan paling mendesak.
Selain penggunaan mesin pompa, pemerintah daerah juga menyiapkan solusi berupa pembangunan sumur bor pada wilayah yang masuk kategori mengalami kekeringan berat. Sumur bor diharapkan memberikan sumber air tambahan terutama pada daerah yang sulit mendapatkan pasokan dari jaringan irigasi maupun sumber permukaan. Penentuan lokasi membutuhkan pemetaan agar sumber air yang diperoleh dapat digunakan secara efektif untuk membantu lahan pertanian. Langkah tersebut menunjukkan penanganan kekeringan tidak dapat hanya mengandalkan satu metode karena kondisi setiap kecamatan berbeda. Pada daerah yang masih memiliki sumber air permukaan, pompa dapat menjadi solusi paling cepat untuk mengalirkan air menuju sawah. Sementara pada kawasan dengan sumber air terbatas, penyediaan sumur dapat menjadi pilihan untuk menjaga keberlanjutan pengairan.
Penanganan yang telah dilakukan hingga kini dilaporkan menjangkau sekitar 390 hektare lahan sawah terdampak kekeringan. Prioritas diberikan kepada tanaman yang berada dalam fase primordial maupun masa pertumbuhan karena kedua tahapan tersebut membutuhkan ketersediaan air yang memadai. Kekurangan air pada fase penting pertumbuhan dapat memengaruhi pembentukan tanaman dan akhirnya menurunkan hasil panen. Karena itu, distribusi air harus dilakukan sebelum kondisi tanaman mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan. Petugas pertanian bersama kelompok tani terus mengidentifikasi lahan yang membutuhkan penanganan paling cepat. Penambahan empat mesin pompa dari Kodim 0101/KBA diharapkan memperkuat kapasitas penanganan tersebut, terutama di Kecamatan Ingin Jaya dan Blang Bintang.
Secara keseluruhan, luas sawah yang terdampak kemarau panjang di Kabupaten Aceh Besar telah mencapai sekitar 2.156 hektare. Angka tersebut menunjukkan kebutuhan penanganan masih cukup besar dibandingkan luas lahan yang telah mendapatkan intervensi. Pemerintah dan unsur terkait karena itu harus menentukan prioritas berdasarkan kondisi tanaman, ketersediaan sumber air, serta tingkat kekeringan masing-masing wilayah. Pengerahan peralatan secara bertahap menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Pada saat bersamaan, petani perlu berkoordinasi mengenai penggunaan pompa agar distribusi air tidak hanya terkonsentrasi pada lahan tertentu. Kerja sama antarkelompok tani menjadi penting ketika volume air yang tersedia terbatas dan harus dibagi untuk mempertahankan tanaman di beberapa lokasi.
Kodim 0101/KBA berharap bantuan tersebut juga semakin memperkuat sinergi antara TNI, pemerintah daerah, kelompok tani, dan masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan. Persoalan kekeringan membutuhkan kerja bersama karena dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi dapat berpengaruh terhadap produksi dan ketersediaan pangan daerah. Pendampingan aparat teritorial dapat membantu mempercepat komunikasi ketika petani menghadapi kendala di lapangan. Pemerintah daerah pada saat yang sama memiliki peran dalam mengatur distribusi air, menyediakan sarana pertanian, dan menentukan langkah penanganan berdasarkan data. Petani menjadi pihak yang menggunakan sekaligus merawat peralatan sehingga keberhasilan program sangat bergantung pada pengelolaan di tingkat lapangan. Sinergi tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko gagal panen apabila musim kemarau masih berlangsung.
Bantuan empat unit mesin pompa dari Kodim 0101/KBA menjadi tambahan dukungan bagi upaya menyelamatkan pertanian Aceh Besar dari dampak kekeringan. Mesin tersebut akan membantu kelompok tani di Kecamatan Ingin Jaya dan Blang Bintang mendapatkan akses air yang lebih baik ketika pasokan alami berkurang. Bersamaan dengan pengerahan sepuluh pompa oleh pemerintah daerah dan instansi terkait serta rencana penyediaan sumur bor di kawasan kekeringan berat, penanganan dilakukan melalui beberapa langkah sesuai kondisi lapangan. Tantangan masih cukup besar karena sekitar 2.156 hektare sawah tercatat terdampak kemarau panjang, sedangkan penanganan yang dilakukan baru menjangkau sekitar 390 hektare. Karena itu, pemantauan dan distribusi sarana pengairan perlu terus dilakukan untuk melindungi tanaman yang berada dalam fase pertumbuhan penting. Kodim berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Aceh Besar tetap terjaga di tengah tekanan musim kemarau.





